Deutschland online bookmaker http://artbetting.de/bet365/ 100% Bonus.

Pelatihan gerakan ROM pada care giver di panti werdha KM 7

IMG 20200217 WA0006

 

 

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang:

Lilik pranata, Sri indaryati, Aniska indah fari

 

Kegiatan dilakukan di panti werdha darma bakti Km 7, dengan peserta karyawan panti (care giver) berjumlah 14 orang yang merawat lansia secara lansgung setiap hari yang dilakukan secara 3 shiff,kegiatan dilakukan melalui beberapa tahap yaitu penyuluhan kemudian pelatiahn dan pendampingan, yaitu mulai tanggal 13 sampi 17 Februari 2020, adapun tujuan kegiatan adalah meningkatan kemampuan care giver dalam memberikan bantuan pada lansia yang mengalami bedrest atau stroke, sehingga tidak dapat melakukan aktifitas secara mandiri, dari hasil peltihan caregiver sanagt antusia dalam pelatiahan tersebut, dari hasil observasi dan kusioner meninjukan hasil yang lebih baik sebelum di berikan pelatiahn dan setelah di berikan pelatihan, saat ini kita sangat prihatin dengan keadaan lansia yang semakin lama semaikn meingkat setara dengan meningkatnya angka usia hidup lebih lama, jika ini tidak di berikan intervesi yang tepat akan membuat masalah besar kepada pemerintah, dan jika di kelala dengan baik maka akan mengurangi biaya hidup dan menurunkan angka kesakitan lansia. Saran bagi seluruh pembaca lebih aktip kembali untuk menajga lansia dan menmpatkan lasia sesuai dengan kemampuan, tidak meneletarkan lansia, memberikan perhatian penuh, dan tidak hanya sekedar menitipkan di panti werdha akan tetapi juga ikut merawatnya.


Pendampingan kesehatan ibu dan Pemeriksaan Golongan Darah pada Ibu dan Anak di Posyandu Kenanga Kelurahan 9 Ilir Guna Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas

WhatsApp Image 2020 02 21 at 12.48.24 2

 

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang:

Ns Bangun Dwi Hardika S.Kep.,M.K.M, Rosnita Sebayang SKM,M.Kes, Ns. Srimiyati, M.Kep

 

Darah merupakan komponen penting dalam tubuh manusia maka golongan darah sebagai identitas seseorang jika mengalami sakit atau membutuhkan komponen darah. Manfaat lain golongan darah seperti untuk membantu memantau diet, untuk membantu menghindari penyakit tertentu, untuk mengetahui resiko dari penyakit jantung, untuk membantu mencegah kanker usus, mempercepat proses menyumbang dan menerima tranfusi darah, membantu menanggulangi fertilitas. Mengingat pentingnya mengetahui golongan darah seseorang dan masih banyak ibu yang belum memahami pentingnya golongan darah serta belum mengetahui golongan darah anak maka untuk proses pembelajaran di lapangan dan pelaksanaan pengabdian masyarakat bagi dosen, maka akan dilaksanakan pendidikan kesehatan dan pemeriksaan golongan darah pada ibu dan anak.

Pada pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat ini telah dilakukan pendampingan dengan memberikan materi tentang manfaat dari identitas golongan darah dan pentingnya dilakukan pemeriksaan golongan darah untuk mengetahui golongan darah dari ibu-ibu diusia produktif dan anak-anak dibawah 11 tahun guna mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan menghindari kesalahan jika akan di lakukan transfuse darah

Kegiatan PKM ini diikuti oleh 103 responden dimana 72 diantaranya melakukan pemeriksaan golongan darah dan untuk responden target sendiri yaitu ibu dan anak sebanyak 29 responden. Semua responden antusias untuk mendengarkan penjelasan tentang pentingnya identitas golongan darah dan melakukan pemeriksaan serta mendapatkan kartu golongan darah yang bias disimpan dan dapat digunakan sewaktu-waktu jika diperlukan.


PEMERIKSAAN HAEMOGLOBIN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN ANEMIA PADA IBU MENYUSUI


Foto

 

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang:

dr. Hotman Sinaga, Sp. PK, Pra Dian Mariadi, S.Si., M.T., Ayu Nina Mirania, SST., M.Bmd, Stephanie Lexy Louis, SST., M.Biomed, Evi Yuniarti, SST., M.Kes

 

Anemia bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, orang dewasa termasuk ibu hamil dan menyusui. Efek dari proses melahirkan akan berbeda-beda pada setiap ibu, ada yang tidak mengalami masalah apapun, tetapi ada pula yang mengalami penurunan pada kesehatan, salah satunya dapat disebabkan oleh banyaknya kehilangan darah selama proses persalinan sehingga berpengaruh pada pasca melahirkan. Sedangkan kondisi lainnya yang dapat menyertai anemia pada pasca melahirkan adalah perubahan pola makan dan istirahat. Sebagai upaya untuk mencegah kejadian anemia pada ibu, maka dilakukan pendidikan kesehatan dan pemeriksaan haemoglobin.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilakukan oleh dosen-dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UKMC dilaksanakan di Posyandu Kenanga RT 14 Kelurahan 9 Ilir Palembang. Kegiatan ini bertujuan ntuk meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya mengenai anemia pada ibu serta dilakukan pemeriksaan haemoglobin (Hb). Dari hasil pemeriksaan Haemoglobin yang dilakukan kepada 36 koresponden didapatkan sekitar 77,7 % koresponden tergolong memiliki kadar Hb yang normal dan sekitar 22,2 % koresponden memiliki kadar Hb dibawah normal dan tergolong Anemia ringan. Dari hasil tersebut, ibu diberikan penyuluhan untuk lebih memperhatikan asupan gizi dengan tujuan mencegah terjadinya anemia baik pada masa kehamilan, setelah persalinan maupun diluar masa kehamilan.

Diharapkan dari kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang anemia dan meningkatkan kewaspadaan gejala anemia pasca melahirkan.


PREVENTIF HIPERTENSI PADA PRAMENOPAUSE DAN MENOPAUSE MELALUI PENYULUHAN DAN PEMERIKSAAN DARAH

IMG 20191113 WA0022

 

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang:

Novita Anggraini, V. Ire Tominik, Margaretha Haiti, Noni Cintya G

 

Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia, yaitu sekitar 17 juta kematian per tahun. Jumlah prevalensi tersebut yang penyumbang angka tertinggi adalah penyakit hipertensi dengan jumlah 9,4 juta kematian per tahun. Hipertensi bertanggung jawab setidaknya 45% terhadap komplikasi akibat penyakit jantung. Jumlah total orang dewasa dengan hipertensi pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 1,56 miliar. Di Indonesia hipertensi adalah salah satu penyebab kematian tertinggi nomor lima. Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil dari pengukuran pada umur sekitar > 18 tahun sebesar 25,8% dan untuk prevelensi hipertensi yang mengalami komplikasi sebesar 51% untuk stroke sedangkan 45% untuk jantung koroner, sedangkan persentasi hipertensi di Sumatera Selatan menduduki urutan 11 dari 34 Provinsi sebesar 30,44%. Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin pada bulan April tahun 2019 di Puskesmas Sukajadi masuk dalam urutan ke-2 dari 33 Puskesmas dengan presentasi penderita hipertensi. Hipertensi dapat didefenisikan sebagai tekanan darah tinggi yang dimana sistoliknya di atas 130 mmHg sedangkan tekanan tekanan diastolik di atas 90 mmH, untuk mengetahui penyakit hipertensi bisa di lihat dari tanda dan gejala yang sering timbul seperti sakit kepala (pusing/migraine), epistaksis (Mimisan), mudah marah, jantung berdebar-debar, telinga berdering, kaku kudu, mata berkunang-kunang, susah untuk tidur dan tekanan darah diatas normal. Setiap individu mengalami perubahan-perubahan tersebut secara berbeda, ada yang laju penurunannya cepat dan dramatis, serta ada juga yang perubahannya lebih tidak bermakna. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit seperti hipertensi. Mengingat patofisiologi kompleks hipertensi pada menopause, modifikasi gaya hidup seperti asupan makanan, dan aktifitas sehari-hari dapat memainkan peran penting dalam tekanan darah yang efektif. Menopause tentu bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi munculnya hipertensi pada wanita. Faktor gaya hidup, medis, dan genetik juga sangat berperan dalam insidensi penyakit kardiovaskuler pada wanita. Hasil pemeriksaan tekanan yang dilakukan pada kegiatan PKM ini ditemukan 27 orang (56,25%) peserta yang hadir mengalami peningkatan tekanan darah. Menurut Muljadi (2008) hipertensi merupakan faktor resiko ketiga terbesar yang menyebabkan kematian karena penderita hipertensi mempunyai peluang 12 kali lebih besar bagi penderitanya untuk mengalami stroke dan 6 kali lebih besar untuk serangan jantung. Untuk mengurangi angka kejadian hipertensi tiap tahunnya maka strategi yang digunakan pemerintah dalam pengendalian hipertensi adalah melalui surveilans epidemiologi hipertensi. Seperti kita ketahui bahwa orang menjadi sakit disebabkan oleh ketidaktahuan, ketidakmampuan dan ketidakmauan untuk itu sebagai tenaga kesehatan kita tidak henti-henti melaksanakan edukasi supaya masyarakat mengetahui dan menyadari pentingnya menjaga gaya hidup dan pola makan yang sehat serta melakukan skrening melauui pemeriksaan kesehatan.


PELATIHAN ASSERTIVENESS TRAINING (AT) DALAM MENINGKATKAN KONSEP DIRI REMAJA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SANTO LOUIS PALEMBANG

WhatsApp Image 2020 01 23 at 09.31.20

 

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang:

Aprida Manurung, Lilik Pranata, Pra Dian Mariadi

 

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa, seperti yang dikemukan Monks (2002) perkembangan kognisi remaja berimplikasi pada perkembangan sosialnya. Ciri perkembangan psikologis remaja adalah adanya emosi yang meledak-ledak, sulit dikendalikan, cepat depresi (sedih, putus asa) dan kemudian melawan dan memberontak. Emosi tidak terkendali hal ini disebabkan oleh konflik peran yang sedang dialami remaja. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri sendiri daripada pikiran yang realistis yang akhirnya menimbulkan konflik bagi remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan tidak jarang remaja menjadi frustasi dan memendam kemarahan yang mendalam kepada orang tuanya dan orang lain disekitarnya, dan menyebabkan kenakalan remaja (Juvenile Delinquency). Salah satu tindakan untuk mengatasi emosi yang meledak-ledak/ prilaku kekerasan adalah dengan terapi Assertive Traniing (AT), namun untuk mencegah kenakalan remaja maka konsep diri siswa haruslah assertif/ positif, oleh karena itu dengan mengabungkan terapi Assertive Tranning pada konsep diri remaja, diharapkan siswa mampu menanggani emosi/kelabilan emosi nya, memandang dirinya baik sehingga tidak merasa rendah diri, dan remaja mampu menunjukan aktualisasi nya dalam bidang akademik dan sosialnya. Assertiveness Training terdiri dari 5 (lima) sesi, masing masing sesi menggunakan metode describing, modelling, role play, feed back dan transfering. Sesi 1 (satu) sampai sesi 4 (empat) diulang satu (1) kali dan sesi 5 (lima) dilakukan satu kali. Jumlah total pertemuan 9 kali dalam 5 hari. Assertiveness Training dilaksanakan siang hari, seusai proses pembelajaran sesuai kontrak dengan pihak sekolah. Waktu yang digunakan untuk pelaksanaan 1 (satu) sesi Assertiveness Training lebih kurang 45 menit. Assertiveness Training dilaksanakan di ruangan kelas dengan suasana tenang, dan nyaman. Siswa tampak senang dan antusias dengan kegiatan, hal tersebut terlihat dari kemauan dan kemampuan remaja dalam menggungapkan isi hati/ permasalahan yang sedang dialami. Hasil pengabdian didapatkan siswa mampu menyebutkan perkembangan konsep diri yang positi/baik, remaja mampu menyebutkan bagaimana berprilaku assertive serta, remaja juga mampu memperagakan bagaimana harus bersikap asertive ketka dalam konflik emosi.


Pendampingan Lansia dalam Peningkatan Kemandirian Mengatasi Nyeri Sendi (Rheumatoid Arthritis) Secara Non Farmakologis

compress pkm bangun daeli

 

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang:

Novita Elisabeth Daeli, Bangun Dwi Hardika, Sri Indaryati, Reski Dewi Utami, Andy Orlando

 

Seorang lanjut usia akan mengalami perubahan fisiologis salah satunya pada sistem muskuloskeletal, yaitu jaringan penghubung (kolagen dan elastin) yang mengalami perubahan akibat turunnya fleksibilitas pada lansia sehingga menimbulkan dampak berupa gangguan persendian. Penyakit yang dapat menyerang persendian yaitu seperti osteoartritis, artritis rhemautoid, dan artritis gout. Asam urat (Artritis Rematoid) dapat menimbulkan nyeri hebat yang tidak tertahankan, terjadi pembengkakan, dan rasa panas di persendian. Gejala yang tidak segera mengalami penanganan akan menggangu aktivitas penderita terutama lansia.

Penanganan nyeri tidak hanya secara farmakologis namun juga dapat dilakukan secara non farmakologis. Pemanfaatan herbal dari berbagai tanaman obat keluarga (TOGA) seperti bawang merah (Allium cepa var aggregatum), dan senam sendi pada lansia merupakan beberapa contoh penanganan nyeri yang dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien. Kemandirian pasien dalam mengurangi gejala penyakit yang dialmi dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup lansia.

Hasil kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini menunjukan bahwa kegiatan kompres bawang merah dan senam sendi efektif untuk menurunkan tingkat nyeri pada sendi lansia hal ini terlihat dari 30 lansia yang terdata mengikuti kegiatan ini mengalami penurunan nyeri yang significant dengan rata-rata penurunan nyeri 5,50. Dengan hasil tersebut kegiatan ini diharapkan dapat dilaksanakan secara rutin sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup lansia yang tinggal di panti werdha warga tama inderalaya.


Download Template Joomla 3.0 free theme.

Kontak

KAMPUS BURLIAN | Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Musi Charitas Palembang - Sumatera Selatan Indonesia

Jl. Kolonel Haji Barlian, Lrg. Suka Senang No. 204 KM.7 Palembang 30152 Telp. 0711-412806, Fax.0711-415780

  • Hot line : 0711-412806  Fax. : 0711-415780